Kamis, 31 Mei 2018

what do you know about SABAR?

Hasil gambar untuk foto sabar what do you know about SABAR?



Sabar, satu kata yang biasa digunakan untung menenangkan sseseorang yang sedang dalam keadaan atau masa sulit sedang menimpanya ini terkadang  tidak banyak orang yang pandai dalam mengartikannya. Ada yang berabggapan bahwa kata "Sabar" yang mereka gunakan hanya sebatas pada ucapan belaka. Bisa berupa ucapan penenang atau pemberi semangat yang ditujukan untuk menghilangkan perasaan pesimis akan keadaan yang sedang dihadapi.
seseorang telah mengajarkan padaku tentang makna kata Kesabaran  yang sesungguhnya.  Saat-saat sulit yang kita lalui terkadang memang tidak mudah untuk dijalani begitu saja. Tetapi dia hadir menjelaskan apa makna kata "Sabar" yang sesungguhnya. Dari semua yang kualami ada satu titik dimana kata-kata itu sangat berarti bagi seseorang yang dirundung perasaan putus asa.
Antara kata "Sabar" dan "Kesabaran" adalah dua  kata yang memiliki peran penting dalam menata kehidupan kita, terutama kehidupan sehari-hari.Jika kita mampu menerapkan sikap Sabar ini maka takayal kita akan memiliki Kesabaran tersebut. 
Tak sedikit orang yang mengatakan bahwa "Kesabaran Itu ada batasnya" tetapi sebenarnya jika kita terus memupuk kesabaran itu maka kita akan menjadi orang yang memiliki "kesabaran yang tak ada batasnya" sama halnya seperti seperti kita ingin mencapai suatu tujuan maka kita harus berani melewati bahkan melampaui "zona aman" yang kita miliki. Dalam hal ini, Zona aman yang kita miliki adalah kata yang menyatakan "batasan" dari rasa sabar itu sendiri. 
sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Tauladan kita, Nabi Muhammad SAW yang tak pernah habis kesabaran dalam menghadapi ummat pada masa itu dari situlah kita dapat belajar arti sebuah kata kesabaran.

Rabu, 30 Mei 2018

Kita berbeda....

Jum'at, 31 mei 2018/ 15 Ramadhan 1439 H

Hasil gambar untuk family             


Tidak terasa sekarang sudah memasuki hari ke 15 hitungan ku di bulan ramadhan tahun ini. Semua terasa berbeda dan sangat asing bagiku. Bangaimana tidak, tahun ini aku harus menjalaninya sendiri. Tidak ada lagi suara panggilan ibu membangunkan ku untuk sahur, tidak ada lagi suara gaduh adik-adik yang nengganggu tidurku, tidak ada lagi teguran ayah, tidak ada lagi sapaan dari orang-orang sekitarku. Tidak, semuanya tidak lagi ada.
Aku harus terbiasa dengan semua ini, ingin rasanya cepat melangkah pulang bertemu dan memeluk mereka. Namun, apa daya ku, semua kewajiban ini menuntut ku harus tetap disini entahlah harus sampai kapan. Aku hanya berharap secepatnya aku pulang itu saja.
Mungkin terdengar lucu jika kalian mengatakan mengerti tapi tetap memojokan kami, kau tau? Anak perantauan seperti kami memang terkesan selalu ingin cepat menyelesaikan perkuliahan karena memang kami harus segera menyelesaikannya. Terlebih ini adalahh momen berharga yang seharusnya kami lewati bersama keluarga sama seperti kalian. Lucu saat kalian mengatakan sama seperti kalian anak kota, tapi tetap saja bagiku hal itu berbeda.
Maafkan kami anak rantau ini yang selalu mendesak kalian, tapi percayalah jika kalian diposisi kami kalian pun akan melakukan hal yang sama.
Satu hal yang ku dapat disini, saat aku jauh dari mereka (keluargaku) aku terlatih untuk hidup mandiri dan pandai bersosialisasi. Yah harus ku akui keterampilan seperti itu harus kumiliki jika aku tidak ingin sendiri tentunya. Dan itu membawaku untuk mwnemukan keluarga baru disini, memang tidak sepenuhnya seperti mereka (keluargaku) disana. Tapi setidaknya membuatku sedikit lebih tenang tinggal diperantauan. Sekalipun itu adalah sesama anak rantau itu cukup bagiku selagi mereka mau mengerti keadaan ku.


Salam dariku, anak perantauan.

Terimakasih untuk waktunya, Keluarga Agus Salim💕

Minggu, 04 Maret 2018

tentang rasa

Assalamu'alaikum...
dear ukhty,
hari ini kudapat sebuah pelajaran dari seorang sahabat. dia seorang Qoriah yang kukagumi karena kelembutan sekaligus kelantangan suara dan tingkah lakunya. aku temui sesuatu yang selama ini masih aku bingungkan darinya. kita, siapapun itu pasti memiliki rasa sayang entah untuk keluarga, teman dekat, sahabat maupun seseorang dihati kita. aku memetik sebuah pelajaran dan sekaligus teguran hari ini. dimana aku melihat apa yang harusnya memang belum ada dihidup ku harusnya tak kurasakan dan secepatnya harus ditinggalkan.
kita semua tau ini zaman yang seorang perempuan tidak lagi malu untuk menampakkan dirinya dihadapan setiap orang. zaman dimana seorang laki-laki tidak lagi menundukan pandangan kepada yang bukan hak untuk ia lihat. zaman yang sangat berlawanan dengan apa yamg kita dapat dari nasihat para orang tua dimasa yang lalu. maafkan jika aku mengatakan ini tapi sungguh aku hanya ingin menjalankan kewajiban sebagai sesama muslim dalam saling mengingatkan.
"sayang" satu kata itu yang menjadi perhatianku dihari ini. dia mengatakan padaku tentang perasaan sayangnya kepada seseorang. aku memang telah mengetahui hubungan yang mereka jalin tapi aku juga tidak menginginkan hal itu berlama-lama.
apakah benar jika kita menyayangi seseorang kita akan menjadi seorang yang egois? akankah rasa sayang itu membuat kita mengekang seseorang? akankah itu semua membuat seseorang serasa dipenjara?
ukhty shalihah, jika boleh aku sampaikan sayang tidaklah demikian. rasa sayangmu tidak akan membuat orang lain merasa tidak nyaman, namun sebaliknya. sebaliknya kau akan membuat seseorang nyaman dengan perasaan sayangmu itu.
boleh aku berpendapat? jika kau menyayangi seseorang cobalah kau selipkan namanya di dalam do'amu. diskusikan dia bersama Rabbmu. jauhkan dia dari perbuatan yang semestinya tidak dilakukan. jauhkan dia dari yang bukan haknya.
ukhty, aku sangat mengerti dan sangat memahami apa yang kau rasakan saat ini. tapi bolehkan aku berpendapat? teruntukmu yang menganggap wanita egois dikarenakan rasa sayangnya itu tidaklah tepat, dalam artian rasa itu hadir bukan tanpa alasan, namun bagaimana kita dalam menyikapinya itulah yang harus diperhatikan. jangan salahkan rasa "sayang" itu karena tidak semua orang akan menafsirkan hal yang sama. setiap yang menyimpan perasaan kepada yang bukan hak nya atau belum hak baginya bersiaplah untuk merasakan kekecewaan yang nyata. karena sejatinya rasa yang tepat jika dibina akan menghadirkan seseorang pada orang yang tepat pula. bersabarlah....

                        BERSAMAMU SAHABAT, HIJRAHKU BERMULA...



Langkah demi langkah kaki

Tapakpun telah terlewati

Namun, apakah yang didapat

Selain dunia yg gemerlap

Bersamamu kini kumencoba

Meniti langkah menuju Jannah-Nya

Hijrahku...

           

            Terlambat bukan berarti tidak bisa, terjaga juga bukan berarti tertutup. Bukan, bukan itu semua yang dimaksud. Semua bukan tentang kapan dan apa. Apalagi siapa. Semua orang bisa melakukannya tergangtung ingin menjemputnya atau tidak.  Yah, itulah yang aku dapat dari pengalamanku bertemu dan akrab bahkan seperti saudari dengannya. Dia, seseorang yang mengajarkanku arti penting dalam kehidupan yang aku tapaki selama ini. Hidup yang kujalani tanpa arah yang hanya membawaku pada kenikmatan sementara tanpa kekekalan yang abadi.

            Dia, ukhty Aisyah Umainah Habibah orang yang telah memberikan cahaya keindahan dan menerangi jalanku sehingga dapat menjemput hidayah-Nya dengan hijrahku. Aku Adiba Zahra yang dulunya bukanlah seseorang sebagaimana aku sekarang, niqab, kerudung besar, baju kurung, kaos kaki, sarung tangan itu semua bukanlah diriku dulu. Saat dimana aku hanya memandang aneh kepada orang-orang bahkan membicarakan yang tidak-tidak tentang mereka dengan apa yang mereka kenakan, Astaghfirullahaladzim betapa aku dulu sangat jauh dari kata seorang muslimah.

            Begitulah diriku dulu, yang Alhamdulilah sekarang Allah SWT memberikanku kesempatan walaupun sedikit terlambat langkah yang aku ambil. Seharusnya bukan sekarang aku melakukan hal ini tapi dulu, dulu jauh dimasa lalu dimana seorang muslimah yang sudah cukup usia seharusnya melakukannya tidak terkecuali siapapun jua. Sebagaimana perintah yang telah Allah SWT sampaikan kepada  Nabi besar Muhammad SAW. Dimana beliau diperintahkan untuk meminta istri dan anak-anak beliau untuk menutup aurat mereka.

            Alhamdulillah atas kehendak-Nya aku dipertemukan dengan seseorang yang amat sangat aku kagumi sosoknya sekarang ini. Disaat semua orang menjauhiku, meninggalkan dan tidak menganggapku lagi dia datang menjemputku dan mengajakku menapaki jalan yang sama dengannya, jalan hijrah. Dalam keterpurukanku dengan sisa kekuatan yang ada aku yang tidak tau harus pergi kemana berjalan dengan titian yang ia berikan.

            “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ukhty”

sapa suara lembutnya dari balik niqab yang ia kenakan. Masih dengan kepala menunduk memeluk lutut aku hanya menjawab lirih ucapan salamnya.

 “ wa’alaikummu sallam”

 aku masih sibuk dengan pikiranku dalam meratapi apa yang telah terjadi dalam hidupku yang tak tentu arah saat itu.

“maaf jika saya lancang bertanya, sedang apa ukhty sendirian disini?” 

Hening. aku tidak menjawabnya. Ditaman sore itu memang ada beberapa orang disana bersama keluarga, teman atau pasangan sedang bercengkrama dengan penuh canda tawa.

            “saya Aisyah jika ukhty berkenan bisakah kita berteman?”

Aku bingung dengan kata-katanya barusan. Gadis anggun terjaga sepertinya mau berteman denganku yang sangat bertolak belakang dengannya. Kulihat matanya seolah mengisyaratkan senyum membuatku sedikit terkesiap dan segera menjawabnya.

            “kenapa kamu ingin berteman denganku? Aku berbeda denganmu” jawabku memalingkan wajah darinya.

            “ukhty, saya tidak pernah memilih dalam berteman bukankah ummat  muslim bersaudara itu bahkan lebih dari sekedar teman”

Muslim? Pantaskah aku dikatakan seorang muslimah dengan pakaian serba terbuka bahkan kewajiban yang kutinggalkan. Seketika aku teringat betapa aku melupakan Allah selama ini hanya untuk meraih gemerlap dunia. Tanpa kusadari aku terisak dan Dia segera meraihku.

            “hey,ukhty kenapa?”                                                                                        

            “apakah aku layak berteman denganmu, aku tidak sepertimu kita berbeda” ucapku dengan sedikit terisak.

            “bukankah sudah saya katakan saya akan berteman dengan siapa saja yang saya temui terlebih sesama muslimah” isyarat mata dari balik niqab yang kuketahui ia sedang tersenyum kepadaku. Sore itu saat hampir maghrib ia mengajakku menginap dirumahnya karna aku yang memang tidak ada tempat tujuan lain akhirnya mengikutinya.

            “ukhty dikamar saya saja tidak apa-apa?” tanyanya saat masih diruang tamu. Rumah yang sederhana namun sangat menenangkan. Dia sendiri disini itu kuketahui karena memang keadaan rumah yang cukup sepi. Kulihat dia masih memandangku menanti jawaban atas pertanyaannya.

            “Ah, iya tidak apa-apa terimakasih kamu mau menerimaku menginap disini” aku menjawab dengan wajah tertunduk. Hanya isyarat mata yang kudapatkan darinya dan dia segera membawaku kekamar untuk mandi dan mengganti baju yang memang sudah lusuh untuk aku kenakan.

            Malam itu, tepatnya sepertiga malam terakhir dirumah yang aku tumpangi ini akhirnya aku menemukan jalan yang selama ini aku cari. Jalan yang aku sendiri sebenarnya enggan untuk menggapainya. Jalan yang akan mengantarkanku kepada kebahagiaan haqiqi seorang muslimah yang merasakan indahnya sebuah baju kurung, penjaga diri serta kerudung besar dengan hiasan niqab yang membantu menjaga pandangan para ikhwan diluar sana. Ya, disini bersama sahabat yang baru aku kenal aku menemukan jalan hijrahku. Jalan yang harusnya sudah lama aku ambil.

            Sungguh indah jalan yang Allah berikan, aku terbangun disepertiga malam terakhir saat mendengar suara merdu lantunan ayat suci dari kamar sebelah tempat tidurku. Aku terjaga, terbangun disejuknya malam. Kurenungkan semua yang telah kulalui selama ini. Betapa jauhnya aku darimu ya Rabb, tidak kusadari air mata mengalir dan isak tangisku pecah jua. Entah kenapa hatiku terasa tersayat mengingat semua yang kulakukan selama ini mulai dari hal kecil sampai hal yang membuatku jadi orang asing bahkan untuk keluargaku sendiri.

                        Setelah beberapa hari aku bersamanya membuatku merasa lebih dihargai dan dianggap ada olehnya,pun apa yang dia ajarkan padaku. Suatu malam kutemui dia untuk menyampaikan rasa terimakasihku padanya.

            Ku ketuk pintu kamarnya. Tok..tok..tok...

            “assalamu’alaikum” ucapku masih diluar pintu sambil menunggu orang dibaliknya keluar membukakan pintu.

            “wa’alaikummu sallam” dia menjawab sambil membuka pintu.

            “ Diba, kenapa belum tidur?” tanyanya saat kami sudah berada dikamarnya.

            “emm, gak papa Syah, aku mau ngobrol aja sama kamu, gak papa kan,?”

            “tentu saja tidak apa-apa” jawabnya tersenyum kali ini aku dapat melihat senyumnya yang sebenarnya karna dia tidak lagi mengenakan niqab diruangan pribadinya.

“Syah, terimakasih ya kamu mau berteman sama aku, aku beruntung kamu mau berteman denganku disaat yang lain menjauhiku.”

“kamu bicara apa diba, saya gak pilih-pilih teman kok siapa saja akan saya anggap teman siapapun dia. Dan pula saya yang harusnya berterimakasih sama kamu, kamu mau berteman dengan saya, jarang orang yang mau berteman dengan kami, kamu tau sendiri kan kami dengan pakaian serba tertutup ini tidak jarang ada orang yang menjauhi kami bahkan menghujat, tapi itu semua gak jadi masalah selama Allah bersama kita semua akan dimudahkan kok, yakinlah.”

“hmmm, sebenarnya aku pengen kaya kamu, tapi apa aku pantas?”

aku mengatakan itu seperti tak sadar menerawang ke kejauhan entah apa yang kulihat dan kata-kata itu keluar dengan sendirinya.

 Dan kata-kataku sepertinya menarik perhatiannya, dia antusias berbicara padaku.

            “tidak ada yang tidak pantas mengenakannya Diba karena menutup aurat itu kewajiban kita sebagai seorang muslimah, sedangkan untuk niqab itu pilihan kita sendiri. Aku akan mendukung jika kamu memang sungguh-sungguh percayalah Allah ada bersamamu selain aku yang mendampingimu.”

            “kau tau Diba, kenapa Islam memerintahkan Muslimahnya menutup aurat? Karena itulah cara Islam menghargai wanita. Islam tidak mau muslimahnya dipandang dengan seenaknya oleh yang bukan mahramnya. Karena kita ini ibarat berlian hanya orang yang berhak yang boleh menyentuh dan memilikinya.”

            Setelah mendengar penuturannya, aku sedikit terguncang dan sungguh aku malu, malu kepada Allah, kepada agamaku yang sudah menjaga kehormatan seorang muslimah namun aku sendiri yang tidak menjaga kehormatanku.

            Keesokan harinya dengan Bismillah kumantapkan hatiku dengan hijrahku kali ini aku ingin bersungguh-sungguh. Aku ingin bersamanya, bersama sahabatku disurga dan untuk itu aku sadar surga tidak menerima orang yang tidak menutup auratnya. Disinilah aku tekadkan diri bersamamu sahabat hijrah kumulai.. bersama kita melangkah menjadi pribadi yang lebih baik lagi karena,  my hijrah my way to Jannah... dan itu kumulai bersamamu sahabatku..



           




what do you know about SABAR?

  what do you know about SABAR? Sabar, satu kata yang biasa digunakan untung menenangkan sseseorang yang sedang dalam keadaan atau masa...