Minggu, 04 Maret 2018


                        BERSAMAMU SAHABAT, HIJRAHKU BERMULA...



Langkah demi langkah kaki

Tapakpun telah terlewati

Namun, apakah yang didapat

Selain dunia yg gemerlap

Bersamamu kini kumencoba

Meniti langkah menuju Jannah-Nya

Hijrahku...

           

            Terlambat bukan berarti tidak bisa, terjaga juga bukan berarti tertutup. Bukan, bukan itu semua yang dimaksud. Semua bukan tentang kapan dan apa. Apalagi siapa. Semua orang bisa melakukannya tergangtung ingin menjemputnya atau tidak.  Yah, itulah yang aku dapat dari pengalamanku bertemu dan akrab bahkan seperti saudari dengannya. Dia, seseorang yang mengajarkanku arti penting dalam kehidupan yang aku tapaki selama ini. Hidup yang kujalani tanpa arah yang hanya membawaku pada kenikmatan sementara tanpa kekekalan yang abadi.

            Dia, ukhty Aisyah Umainah Habibah orang yang telah memberikan cahaya keindahan dan menerangi jalanku sehingga dapat menjemput hidayah-Nya dengan hijrahku. Aku Adiba Zahra yang dulunya bukanlah seseorang sebagaimana aku sekarang, niqab, kerudung besar, baju kurung, kaos kaki, sarung tangan itu semua bukanlah diriku dulu. Saat dimana aku hanya memandang aneh kepada orang-orang bahkan membicarakan yang tidak-tidak tentang mereka dengan apa yang mereka kenakan, Astaghfirullahaladzim betapa aku dulu sangat jauh dari kata seorang muslimah.

            Begitulah diriku dulu, yang Alhamdulilah sekarang Allah SWT memberikanku kesempatan walaupun sedikit terlambat langkah yang aku ambil. Seharusnya bukan sekarang aku melakukan hal ini tapi dulu, dulu jauh dimasa lalu dimana seorang muslimah yang sudah cukup usia seharusnya melakukannya tidak terkecuali siapapun jua. Sebagaimana perintah yang telah Allah SWT sampaikan kepada  Nabi besar Muhammad SAW. Dimana beliau diperintahkan untuk meminta istri dan anak-anak beliau untuk menutup aurat mereka.

            Alhamdulillah atas kehendak-Nya aku dipertemukan dengan seseorang yang amat sangat aku kagumi sosoknya sekarang ini. Disaat semua orang menjauhiku, meninggalkan dan tidak menganggapku lagi dia datang menjemputku dan mengajakku menapaki jalan yang sama dengannya, jalan hijrah. Dalam keterpurukanku dengan sisa kekuatan yang ada aku yang tidak tau harus pergi kemana berjalan dengan titian yang ia berikan.

            “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ukhty”

sapa suara lembutnya dari balik niqab yang ia kenakan. Masih dengan kepala menunduk memeluk lutut aku hanya menjawab lirih ucapan salamnya.

 “ wa’alaikummu sallam”

 aku masih sibuk dengan pikiranku dalam meratapi apa yang telah terjadi dalam hidupku yang tak tentu arah saat itu.

“maaf jika saya lancang bertanya, sedang apa ukhty sendirian disini?” 

Hening. aku tidak menjawabnya. Ditaman sore itu memang ada beberapa orang disana bersama keluarga, teman atau pasangan sedang bercengkrama dengan penuh canda tawa.

            “saya Aisyah jika ukhty berkenan bisakah kita berteman?”

Aku bingung dengan kata-katanya barusan. Gadis anggun terjaga sepertinya mau berteman denganku yang sangat bertolak belakang dengannya. Kulihat matanya seolah mengisyaratkan senyum membuatku sedikit terkesiap dan segera menjawabnya.

            “kenapa kamu ingin berteman denganku? Aku berbeda denganmu” jawabku memalingkan wajah darinya.

            “ukhty, saya tidak pernah memilih dalam berteman bukankah ummat  muslim bersaudara itu bahkan lebih dari sekedar teman”

Muslim? Pantaskah aku dikatakan seorang muslimah dengan pakaian serba terbuka bahkan kewajiban yang kutinggalkan. Seketika aku teringat betapa aku melupakan Allah selama ini hanya untuk meraih gemerlap dunia. Tanpa kusadari aku terisak dan Dia segera meraihku.

            “hey,ukhty kenapa?”                                                                                        

            “apakah aku layak berteman denganmu, aku tidak sepertimu kita berbeda” ucapku dengan sedikit terisak.

            “bukankah sudah saya katakan saya akan berteman dengan siapa saja yang saya temui terlebih sesama muslimah” isyarat mata dari balik niqab yang kuketahui ia sedang tersenyum kepadaku. Sore itu saat hampir maghrib ia mengajakku menginap dirumahnya karna aku yang memang tidak ada tempat tujuan lain akhirnya mengikutinya.

            “ukhty dikamar saya saja tidak apa-apa?” tanyanya saat masih diruang tamu. Rumah yang sederhana namun sangat menenangkan. Dia sendiri disini itu kuketahui karena memang keadaan rumah yang cukup sepi. Kulihat dia masih memandangku menanti jawaban atas pertanyaannya.

            “Ah, iya tidak apa-apa terimakasih kamu mau menerimaku menginap disini” aku menjawab dengan wajah tertunduk. Hanya isyarat mata yang kudapatkan darinya dan dia segera membawaku kekamar untuk mandi dan mengganti baju yang memang sudah lusuh untuk aku kenakan.

            Malam itu, tepatnya sepertiga malam terakhir dirumah yang aku tumpangi ini akhirnya aku menemukan jalan yang selama ini aku cari. Jalan yang aku sendiri sebenarnya enggan untuk menggapainya. Jalan yang akan mengantarkanku kepada kebahagiaan haqiqi seorang muslimah yang merasakan indahnya sebuah baju kurung, penjaga diri serta kerudung besar dengan hiasan niqab yang membantu menjaga pandangan para ikhwan diluar sana. Ya, disini bersama sahabat yang baru aku kenal aku menemukan jalan hijrahku. Jalan yang harusnya sudah lama aku ambil.

            Sungguh indah jalan yang Allah berikan, aku terbangun disepertiga malam terakhir saat mendengar suara merdu lantunan ayat suci dari kamar sebelah tempat tidurku. Aku terjaga, terbangun disejuknya malam. Kurenungkan semua yang telah kulalui selama ini. Betapa jauhnya aku darimu ya Rabb, tidak kusadari air mata mengalir dan isak tangisku pecah jua. Entah kenapa hatiku terasa tersayat mengingat semua yang kulakukan selama ini mulai dari hal kecil sampai hal yang membuatku jadi orang asing bahkan untuk keluargaku sendiri.

                        Setelah beberapa hari aku bersamanya membuatku merasa lebih dihargai dan dianggap ada olehnya,pun apa yang dia ajarkan padaku. Suatu malam kutemui dia untuk menyampaikan rasa terimakasihku padanya.

            Ku ketuk pintu kamarnya. Tok..tok..tok...

            “assalamu’alaikum” ucapku masih diluar pintu sambil menunggu orang dibaliknya keluar membukakan pintu.

            “wa’alaikummu sallam” dia menjawab sambil membuka pintu.

            “ Diba, kenapa belum tidur?” tanyanya saat kami sudah berada dikamarnya.

            “emm, gak papa Syah, aku mau ngobrol aja sama kamu, gak papa kan,?”

            “tentu saja tidak apa-apa” jawabnya tersenyum kali ini aku dapat melihat senyumnya yang sebenarnya karna dia tidak lagi mengenakan niqab diruangan pribadinya.

“Syah, terimakasih ya kamu mau berteman sama aku, aku beruntung kamu mau berteman denganku disaat yang lain menjauhiku.”

“kamu bicara apa diba, saya gak pilih-pilih teman kok siapa saja akan saya anggap teman siapapun dia. Dan pula saya yang harusnya berterimakasih sama kamu, kamu mau berteman dengan saya, jarang orang yang mau berteman dengan kami, kamu tau sendiri kan kami dengan pakaian serba tertutup ini tidak jarang ada orang yang menjauhi kami bahkan menghujat, tapi itu semua gak jadi masalah selama Allah bersama kita semua akan dimudahkan kok, yakinlah.”

“hmmm, sebenarnya aku pengen kaya kamu, tapi apa aku pantas?”

aku mengatakan itu seperti tak sadar menerawang ke kejauhan entah apa yang kulihat dan kata-kata itu keluar dengan sendirinya.

 Dan kata-kataku sepertinya menarik perhatiannya, dia antusias berbicara padaku.

            “tidak ada yang tidak pantas mengenakannya Diba karena menutup aurat itu kewajiban kita sebagai seorang muslimah, sedangkan untuk niqab itu pilihan kita sendiri. Aku akan mendukung jika kamu memang sungguh-sungguh percayalah Allah ada bersamamu selain aku yang mendampingimu.”

            “kau tau Diba, kenapa Islam memerintahkan Muslimahnya menutup aurat? Karena itulah cara Islam menghargai wanita. Islam tidak mau muslimahnya dipandang dengan seenaknya oleh yang bukan mahramnya. Karena kita ini ibarat berlian hanya orang yang berhak yang boleh menyentuh dan memilikinya.”

            Setelah mendengar penuturannya, aku sedikit terguncang dan sungguh aku malu, malu kepada Allah, kepada agamaku yang sudah menjaga kehormatan seorang muslimah namun aku sendiri yang tidak menjaga kehormatanku.

            Keesokan harinya dengan Bismillah kumantapkan hatiku dengan hijrahku kali ini aku ingin bersungguh-sungguh. Aku ingin bersamanya, bersama sahabatku disurga dan untuk itu aku sadar surga tidak menerima orang yang tidak menutup auratnya. Disinilah aku tekadkan diri bersamamu sahabat hijrah kumulai.. bersama kita melangkah menjadi pribadi yang lebih baik lagi karena,  my hijrah my way to Jannah... dan itu kumulai bersamamu sahabatku..



           




1 komentar:

what do you know about SABAR?

  what do you know about SABAR? Sabar, satu kata yang biasa digunakan untung menenangkan sseseorang yang sedang dalam keadaan atau masa...