Assalamu'alaikum...
dear ukhty,
hari ini kudapat sebuah pelajaran dari seorang sahabat. dia seorang Qoriah yang kukagumi karena kelembutan sekaligus kelantangan suara dan tingkah lakunya. aku temui sesuatu yang selama ini masih aku bingungkan darinya. kita, siapapun itu pasti memiliki rasa sayang entah untuk keluarga, teman dekat, sahabat maupun seseorang dihati kita. aku memetik sebuah pelajaran dan sekaligus teguran hari ini. dimana aku melihat apa yang harusnya memang belum ada dihidup ku harusnya tak kurasakan dan secepatnya harus ditinggalkan.
kita semua tau ini zaman yang seorang perempuan tidak lagi malu untuk menampakkan dirinya dihadapan setiap orang. zaman dimana seorang laki-laki tidak lagi menundukan pandangan kepada yang bukan hak untuk ia lihat. zaman yang sangat berlawanan dengan apa yamg kita dapat dari nasihat para orang tua dimasa yang lalu. maafkan jika aku mengatakan ini tapi sungguh aku hanya ingin menjalankan kewajiban sebagai sesama muslim dalam saling mengingatkan.
"sayang" satu kata itu yang menjadi perhatianku dihari ini. dia mengatakan padaku tentang perasaan sayangnya kepada seseorang. aku memang telah mengetahui hubungan yang mereka jalin tapi aku juga tidak menginginkan hal itu berlama-lama.
apakah benar jika kita menyayangi seseorang kita akan menjadi seorang yang egois? akankah rasa sayang itu membuat kita mengekang seseorang? akankah itu semua membuat seseorang serasa dipenjara?
ukhty shalihah, jika boleh aku sampaikan sayang tidaklah demikian. rasa sayangmu tidak akan membuat orang lain merasa tidak nyaman, namun sebaliknya. sebaliknya kau akan membuat seseorang nyaman dengan perasaan sayangmu itu.
boleh aku berpendapat? jika kau menyayangi seseorang cobalah kau selipkan namanya di dalam do'amu. diskusikan dia bersama Rabbmu. jauhkan dia dari perbuatan yang semestinya tidak dilakukan. jauhkan dia dari yang bukan haknya.
ukhty, aku sangat mengerti dan sangat memahami apa yang kau rasakan saat ini. tapi bolehkan aku berpendapat? teruntukmu yang menganggap wanita egois dikarenakan rasa sayangnya itu tidaklah tepat, dalam artian rasa itu hadir bukan tanpa alasan, namun bagaimana kita dalam menyikapinya itulah yang harus diperhatikan. jangan salahkan rasa "sayang" itu karena tidak semua orang akan menafsirkan hal yang sama. setiap yang menyimpan perasaan kepada yang bukan hak nya atau belum hak baginya bersiaplah untuk merasakan kekecewaan yang nyata. karena sejatinya rasa yang tepat jika dibina akan menghadirkan seseorang pada orang yang tepat pula. bersabarlah....
Minggu, 04 Maret 2018
BERSAMAMU
SAHABAT, HIJRAHKU BERMULA...
Langkah
demi langkah kaki
Tapakpun
telah terlewati
Namun,
apakah yang didapat
Selain
dunia yg gemerlap
Bersamamu
kini kumencoba
Meniti
langkah menuju Jannah-Nya
Hijrahku...
Terlambat
bukan berarti tidak bisa, terjaga juga bukan berarti tertutup. Bukan, bukan itu
semua yang dimaksud. Semua bukan tentang kapan dan apa. Apalagi siapa. Semua
orang bisa melakukannya tergangtung ingin menjemputnya atau tidak. Yah, itulah yang aku dapat dari pengalamanku
bertemu dan akrab bahkan seperti saudari dengannya. Dia, seseorang yang
mengajarkanku arti penting dalam kehidupan yang aku tapaki selama ini. Hidup
yang kujalani tanpa arah yang hanya membawaku pada kenikmatan sementara tanpa
kekekalan yang abadi.
Dia, ukhty Aisyah
Umainah Habibah orang yang telah memberikan cahaya keindahan dan menerangi
jalanku sehingga dapat menjemput hidayah-Nya dengan hijrahku. Aku Adiba Zahra
yang dulunya bukanlah seseorang sebagaimana aku sekarang, niqab, kerudung
besar, baju kurung, kaos kaki, sarung tangan itu semua bukanlah diriku dulu.
Saat dimana aku hanya memandang aneh kepada orang-orang bahkan membicarakan
yang tidak-tidak tentang mereka dengan apa yang mereka kenakan,
Astaghfirullahaladzim betapa aku dulu sangat jauh dari kata seorang muslimah.
Begitulah diriku dulu,
yang Alhamdulilah sekarang Allah SWT memberikanku kesempatan walaupun sedikit
terlambat langkah yang aku ambil. Seharusnya bukan sekarang aku melakukan hal
ini tapi dulu, dulu jauh dimasa lalu dimana seorang muslimah yang sudah cukup
usia seharusnya melakukannya tidak terkecuali siapapun jua. Sebagaimana
perintah yang telah Allah SWT sampaikan kepada
Nabi besar Muhammad SAW. Dimana beliau diperintahkan untuk meminta istri
dan anak-anak beliau untuk menutup aurat mereka.
Alhamdulillah atas
kehendak-Nya aku dipertemukan dengan seseorang yang amat sangat aku kagumi
sosoknya sekarang ini. Disaat semua orang menjauhiku, meninggalkan dan tidak
menganggapku lagi dia datang menjemputku dan mengajakku menapaki jalan yang
sama dengannya, jalan hijrah. Dalam keterpurukanku dengan sisa kekuatan yang
ada aku yang tidak tau harus pergi kemana berjalan dengan titian yang ia
berikan.
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh ukhty”
sapa suara lembutnya dari balik niqab yang ia kenakan. Masih dengan
kepala menunduk memeluk lutut aku hanya menjawab lirih ucapan salamnya.
“
wa’alaikummu sallam”
aku
masih sibuk dengan pikiranku dalam meratapi apa yang telah terjadi dalam
hidupku yang tak tentu arah saat itu.
“maaf jika saya lancang bertanya, sedang apa
ukhty sendirian disini?”
Hening. aku tidak menjawabnya. Ditaman sore itu memang ada beberapa
orang disana bersama keluarga, teman atau pasangan sedang bercengkrama dengan
penuh canda tawa.
“saya Aisyah jika ukhty
berkenan bisakah kita berteman?”
Aku bingung dengan kata-katanya barusan. Gadis anggun terjaga sepertinya
mau berteman denganku yang sangat bertolak belakang dengannya. Kulihat matanya
seolah mengisyaratkan senyum membuatku sedikit terkesiap dan segera
menjawabnya.
“kenapa kamu ingin
berteman denganku? Aku berbeda denganmu” jawabku memalingkan wajah darinya.
“ukhty, saya tidak
pernah memilih dalam berteman bukankah ummat
muslim bersaudara itu bahkan lebih dari sekedar teman”
Muslim? Pantaskah aku dikatakan seorang muslimah dengan pakaian serba
terbuka bahkan kewajiban yang kutinggalkan. Seketika aku teringat betapa aku
melupakan Allah selama ini hanya untuk meraih gemerlap dunia. Tanpa kusadari
aku terisak dan Dia segera meraihku.
“hey,ukhty
kenapa?”
“apakah aku layak
berteman denganmu, aku tidak sepertimu kita berbeda” ucapku dengan sedikit
terisak.
“bukankah sudah saya
katakan saya akan berteman dengan siapa saja yang saya temui terlebih sesama
muslimah” isyarat mata dari balik niqab yang kuketahui ia sedang tersenyum
kepadaku. Sore itu saat hampir maghrib ia mengajakku menginap dirumahnya karna
aku yang memang tidak ada tempat tujuan lain akhirnya mengikutinya.
“ukhty dikamar saya
saja tidak apa-apa?” tanyanya saat masih diruang tamu. Rumah yang sederhana
namun sangat menenangkan. Dia sendiri disini itu kuketahui karena memang
keadaan rumah yang cukup sepi. Kulihat dia masih memandangku menanti jawaban
atas pertanyaannya.
“Ah, iya tidak apa-apa
terimakasih kamu mau menerimaku menginap disini” aku menjawab dengan wajah
tertunduk. Hanya isyarat mata yang kudapatkan darinya dan dia segera membawaku
kekamar untuk mandi dan mengganti baju yang memang sudah lusuh untuk aku
kenakan.
Malam itu, tepatnya
sepertiga malam terakhir dirumah yang aku tumpangi ini akhirnya aku menemukan
jalan yang selama ini aku cari. Jalan yang aku sendiri sebenarnya enggan untuk
menggapainya. Jalan yang akan mengantarkanku kepada kebahagiaan haqiqi
seorang muslimah yang merasakan indahnya sebuah baju kurung, penjaga diri serta
kerudung besar dengan hiasan niqab yang membantu menjaga pandangan para ikhwan
diluar sana. Ya, disini bersama sahabat yang baru aku kenal aku menemukan jalan
hijrahku. Jalan yang harusnya sudah lama aku ambil.
Sungguh indah jalan yang
Allah berikan, aku terbangun disepertiga malam terakhir saat mendengar suara
merdu lantunan ayat suci dari kamar sebelah tempat tidurku. Aku terjaga,
terbangun disejuknya malam. Kurenungkan semua yang telah kulalui selama ini.
Betapa jauhnya aku darimu ya Rabb, tidak kusadari air mata mengalir dan isak
tangisku pecah jua. Entah kenapa hatiku terasa tersayat mengingat semua yang
kulakukan selama ini mulai dari hal kecil sampai hal yang membuatku jadi orang
asing bahkan untuk keluargaku sendiri.
Setelah
beberapa hari aku bersamanya membuatku merasa lebih dihargai dan dianggap ada
olehnya,pun apa yang dia ajarkan padaku. Suatu malam kutemui dia untuk
menyampaikan rasa terimakasihku padanya.
Ku ketuk pintu
kamarnya. Tok..tok..tok...
“assalamu’alaikum” ucapku
masih diluar pintu sambil menunggu orang dibaliknya keluar membukakan pintu.
“wa’alaikummu sallam”
dia menjawab sambil membuka pintu.
“ Diba, kenapa belum
tidur?” tanyanya saat kami sudah berada dikamarnya.
“emm, gak papa Syah,
aku mau ngobrol aja sama kamu, gak papa kan,?”
“tentu saja tidak
apa-apa” jawabnya tersenyum kali ini aku dapat melihat senyumnya yang
sebenarnya karna dia tidak lagi mengenakan niqab diruangan pribadinya.
“Syah, terimakasih ya kamu mau berteman sama
aku, aku beruntung kamu mau berteman denganku disaat yang lain menjauhiku.”
“kamu bicara apa diba, saya gak pilih-pilih
teman kok siapa saja akan saya anggap teman siapapun dia. Dan pula saya yang
harusnya berterimakasih sama kamu, kamu mau berteman dengan saya, jarang orang
yang mau berteman dengan kami, kamu tau sendiri kan kami dengan pakaian serba
tertutup ini tidak jarang ada orang yang menjauhi kami bahkan menghujat, tapi
itu semua gak jadi masalah selama Allah bersama kita semua akan dimudahkan kok,
yakinlah.”
“hmmm, sebenarnya aku pengen kaya kamu, tapi
apa aku pantas?”
aku mengatakan itu seperti tak sadar menerawang ke kejauhan entah apa
yang kulihat dan kata-kata itu keluar dengan sendirinya.
Dan kata-kataku sepertinya
menarik perhatiannya, dia antusias berbicara padaku.
“tidak ada yang tidak
pantas mengenakannya Diba karena menutup aurat itu kewajiban kita sebagai
seorang muslimah, sedangkan untuk niqab itu pilihan kita sendiri. Aku akan
mendukung jika kamu memang sungguh-sungguh percayalah Allah ada bersamamu
selain aku yang mendampingimu.”
“kau tau Diba, kenapa
Islam memerintahkan Muslimahnya menutup aurat? Karena itulah cara Islam
menghargai wanita. Islam tidak mau muslimahnya dipandang dengan seenaknya oleh
yang bukan mahramnya. Karena kita ini ibarat berlian hanya orang yang berhak
yang boleh menyentuh dan memilikinya.”
Setelah mendengar
penuturannya, aku sedikit terguncang dan sungguh aku malu, malu kepada Allah,
kepada agamaku yang sudah menjaga kehormatan seorang muslimah namun aku sendiri
yang tidak menjaga kehormatanku.
Keesokan harinya dengan
Bismillah kumantapkan hatiku dengan hijrahku kali ini aku ingin
bersungguh-sungguh. Aku ingin bersamanya, bersama sahabatku disurga dan untuk
itu aku sadar surga tidak menerima orang yang tidak menutup auratnya. Disinilah
aku tekadkan diri bersamamu sahabat hijrah kumulai.. bersama kita melangkah
menjadi pribadi yang lebih baik lagi karena, my hijrah my way to Jannah... dan itu
kumulai bersamamu sahabatku..
Langganan:
Postingan (Atom)
what do you know about SABAR?
what do you know about SABAR? Sabar, satu kata yang biasa digunakan untung menenangkan sseseorang yang sedang dalam keadaan atau masa...